Translate

Thursday, 31 December 2009

Meningkatkan Kepahaman Agama

Kepahaman agama merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan memiliki kepahaman agama yang kuat, maka seseorang bisa mempertahankan agamanya, tidak terpengaruh dengan keadaan lingkungannya, bahkan bisa mempengaruhi orang-orang lain untuk berbuat kebaikan.

Sebagaimana isi hadits berikut:

فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ * رواه ابن ماجة

Satu orang yang paham agama lebih berat bagi syetan untuk menggodanya daripada seribu orang yang beribadah (namun tidak paham agama)

Oleh karena itu, agar bisa meningkatkan dan menetapkan kepahaman agama tersebut, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan, di antaranya yaitu:

1. Memperbanyak mengaji dan mendatangi pengajian

Materi yang seharusnya ada dan diajarkan di pengajian ini tentunya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kedua materi ini merupakan dua pedoman utama di kalangan umat Islam. Dengan banyak mengaji, maka akan memiliki ilmu yang banyak, bisa mengerti mana yang halal, harom, dan subhat (ragu-ragu), mana yang haq dan mana yang batal, mana yang seharusnya dikerjakan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Prakteknya adalah:

   1. yang bisa mengajarkan yang tidak bisa
   2. yang tidak bisa meminta yang bisa untuk diajari
   3. kalau sendirian disempatkan waktunya untuk membuka-buka kembali ilmu Qur’an Hadits yang pernah didapat

Dengan memiliki ilmu yang banyak dan ketertiban mengaji, seseorang bisa memiliki rasa takut dan rasa taqwa kepada Alloh, sesuai dengan firman Alloh:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا ...الأية * سورة فاطر 28

Sesungguhnya hamba-hamba Alloh yang takut kepada Alloh hanyalah orang-orang yang berilmu …

Dalam mengaji diharapkan terdapat kemauan dan kesungguhan untuk mengerti ilmu-ilmu yang dipelajari, sehingga benar-benar mantap dalam memahami isi Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan merasa bangga dengan kebenaran agama Islam yang sumbernya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * سورة الأنفال 2

Sesungguhnya yang disebut sebagai orang iman itu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Alloh maka tergetar hatinya, dan ketika dibacakan atas mereka ayat-ayat Alloh, maka tambahlah keimanannya, dan terhadap Tuhannya mereka berserah diri.

Sedangkan Nabi pernah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِِنَّمَا الْعِلْمُ بِتَّعَلُّمِ وَالْفِقْهُ بِالتَّفَقُّهِ وَمَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرً يُفَقِّهُ فِى الدِّيْنِ وَ اِنَّمَا يَخْشَ اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا * رواه الطبرانى عن معاوية

Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan belajar, dan paham agama itu diperoleh dengan berusaha mencari kepahaman, dan barang siapa dikehendaki baik oleh Alloh, Alloh memahamkannya terhadap agama, dan sesungguhnya yang bisa bertaqwa kepada Alloh adalah hamba-hamba-Nya yang berilmu.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidaklah mungkin jika seseorang merasa sudah memiliki kepahaman agama yang kuat jika tidak menertibkan mengaji. Ilmu Islam adalah sangat luas. Masih banyak ilmu-ilmu di dalam Qur’an dan Hadits yang mungkin belum kita kaji. Maka marilah kita berlomba-lomba untuk mengaji dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

2. Senang mendengarkan nasihat agama

Keimanan ada kalanya ada di atas, ada kalanya pula ada di bawah. Karena itu pulalah salah satu do’a yang sering dibaca oleh Nabi adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ * رواه الترمذى كتاب الدعوات

Wahai Zat Yang Membolak-balikkan Hati, tetapkanlah hatiku dalam agamamu

Selain membaca do’a tersebut, agar keimanan tetap terjaga dan meningkat, maka kita memerlukan masukan-masukan berupa nasihat agama. Sebagaimana firman Alloh:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ * سورة الذاريات 55

Dan peringatkanlah Muhammad, maka sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman

Bagi orang iman, jika menerima nasihat pasti bermanfaat baginya dan bertambah kepahamannya. Dan jangan sampai kita tidak mau mendengarkan dan menerima nasihat, karena akan diancam oleh Alloh:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى  * سورة طه 124

Barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit (di dunianya) dan akan dikumpulkan dia di hari kiamat dalam keadaan buta

Dengan sering mendengarkan nasihat, maka kita akan selalu mendapatkan penerangan dan peringatan ke jalan yang benar. Jika langkah kita sudah benar, maka kita bisa tambah yakin dan tambah bersyukur karena sudah berada di dalam kebenaran. Sedangkan jika langkah kita salah, maka dengan adanya nasihat bisa membetulkan langkah kita dan kita selalu bisa bersyukur karena selalu diarahkan dalam kebenaran.

3. Banyak bergaul dengan orang yang sholih

Dengan banyak bergaul dengan orang yang sholih, maka akan selalu ada yang mengingatkan kita jika kita melakukan kesalahan. Separah-parahnya, kita akan merasa malu jika kita melakukan kesalahan di depan teman kita tersebut. Akan tetapi dengan banyak bergaul dengan orang-orang yang tidak sholih, jangankan dinasihati jika kita berbuat salah, bahkan kita diajak untuk mengerjakan perbuatan maksiat. Gambaran teman bergaul yang baik dan tidak baik adalah seperti hadits di bawah ini:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً * رواه البخارى

Perumpamaan teman duduk (teman bergaul) yang baik (sholih) dan teman duduk yang jelek sebagaimana gambaran orang menjual minyak wangi dan ubupan pandai besi. Tidak melewatkan kepadamu orang yang menjual minyak wangi, adakalanya kamu membeli minyak wangi atau kamu menjumpai mendapatkan baunya. Sedangkan ubupan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau (setidaknya) kamu akan menjumpai bau yang tidak enak

Karena sebagian waktu kita digunakan untuk bergaul dengan teman-teman kita, maka sangatlah penting untuk memilih teman bergaul. Karena adanya godaan syetan, manusia lebih senang melakukan perbuatan yang melanggar dibanding melakukan perbuatan baik. Adanya teman bergaul yang baik akan mempengaruhi kita untuk berbuat baik juga dan menjauhkan kita dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang melanggar. Setipis-tipisnya keimanan dan kepahaman seseorang, lama kelamaan akan meningkat juga keimanan dan kepahamannya jika bergaul dengan orang-orang yang baik. Dari suatu hadits, Nabi pernah bersabda:

حَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ وَأَبُو دَاوُدَ قَالَا حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ وَرْدَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ * رواه أبو داود

Tingkah laku seseorang akan mengikuti tingkah laku kekasihnya atau temannya. Maka (lihatlah) siapa yang akan dijadikan kekasih atau teman.

Bagaimana cara syukur??

Bagaimana caranya syukur?

1.Kurman
Kurman adalah kependekan dari “mensyukuri manusia”. Mengapa? Sebab praktis tidak ada kenikmatan Alloh yang tidak dilewatkan manusia sebagai perantara nikmat.

Demikian pentingnya peranan manusia sebagai perantara nikmat, sampai-sampai Nabi bersabda: man lam yasykurinnaasa lam yasykurillah – man lam yasykurunnaasa laa yasykurullooha – barang siapa yang tidak syukur kepada manusia, sama dengan tidak syukur kepada Alloh. Nah!

Dalam sejarah, tidak banyak peristiwa yang menunjukkan Alloh memberikan nikmat, misalnya makanan, secara langsung dari langit. Kaum Yahudi, ketika dibawa Musa mengembara mencari Baitul Maqdis, oleh Alloh langsung diberi madu “manna” dan burung “salwa”. Atau ketika Nabi Isa meminta hidangan, oleh Alloh diberikan hidangan dari langit, dan diabadikan dalam surat Al-Maidah yang artinya hidangan. Selain kejadian itu, semua orang tanpa kecuali, harus mencari makanan dulu, lalu memakannya. Sebagian harus memasaknya terlebih dahulu.

Sooo, suami selalu bersyukurlah kepada isteri, karena sesungguhnya tidak terhitung kenikmatan Alloh yang diberikan kepada suami lewat perantara isteri. Idem, isteri syukurlah kepada suami, karena idem.

Anak bersyukurlah kepada orang tua, karena tidak mungkin akan bisa mulang tarima alias membalas kebaikan atas kenikmatan Alloh yang dilewatkan orang-tua.

Karyawan selalu bersyukurlah kepada perusahaan tempatnya bekerja, karena gaji, tunjangan, dan lain-lain yang diberikan perusahaan, hakikatnya adalah kenikmatan dari Alloh. Maka sebagai tanda kesyukuran, jadilah karyawan teladan, produktif, tidak korupsi waktu, tidak korupsi fasilitas, apalagi korupsi dana.

Warga negara bersyukurlah kepada pemerintah yang sah yang mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, dan memberikan kebebasan untuk menjalankan kehidupan beragama sesuai dengan keyakinannya. Sebagai tanda kesyukuran, jadilah warga negara teladan yang taat tunduk dan patuh kepada Pancasila dan UUD 1945, dan hukum-hukum yang berlaku.

Nah, dari semua kenikmatan Alloh, yang paling akbar adalah kenikmatan mendapatkan hidayah bisa menetapi agama Islam yang haq. Kemana manusia mencari hidayah?

Dalam pencarian hidayah, Ibrahim mengira bulan sebagai Tuhan, sampai kemudian bulan tenggelam. Lalu Ibrahim mengira matahari sebagai Tuhan, sampai kemudian matahari terbenam. Setelah melewati “proses”, akhirnya Ibrahim diberi hidayah menemukan Tuhan yang sesungguhnya: Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.

Dalam pencarian hidayah, Muhammad menyepi menyendiri berhari-hari di Gua Hira, dan pulang hanya untuk membawa bekal yang disiapkan Khadijah. Sampai kemudian turun wahyu pertama melalui Jibril yang menuntunnya untuk mengikuti mambaca surat “Iqra”, akhirnya Muhammad diberi hidayahmenemukan Tuhan yang sesungguhnya, bukan Latta, bukan Uzza, tetapi Alloh Subhaanahu wa Ta’aala.

Bagaimana dengan kita? Sampai bengek bersemedi di kawah Gunung Tangkuban Perahu kedinginan lalu batuk-asma karena terhisap gas sulfur, tidak akan dapat itu yang namanya hidayah. Mengapa? Karena khotaman nabiyyiina adalah Muhammad. Setelah itu tidak ada lagi manusia yang didatangi Malaikat Jibril untuk mendapatkan wahyu.

Artinya? Hidayah hanya dapat sampai kepada kita kalau ada perantara yang menyampaikan. Siapakah perantara itu? Bukan malaikat, bukan jin. Mereka adalah manusia: mulai dari sohabat, kemudian tabi’in, kemudian tabi’it-tabi’in, dst, dst, dst., sampai kepada manusia terakhir yang menyampaikan hidayah kepada kita. Menuntun syahadat, mengajari sholat, dst., dst. Kepada mereka itulah para perantara hidayah Alloh, syukur akbar kita sampaikan. Alhamdulillaah jazaahumulloohu khoiron.

2. Kurcil
Kurcil adalah kependekan dari “mensyukuri kenikmatan kecil”. Mengapa kenikmatan kecil –bukan hanya kenikmatan besar- yang juga harus disyukuri?
Sebab, Pertama, sekecil apapun kenikmatan itu datangnya tetap dari Alloh. Kedua, ‘kecil’ adalah ungkapan kualitatif yang sulit diukur. Kecil buat di A belum tentu kecil buat si B.
Berapa sih nilai segelas air? Murah sekali, bukan? Tapi coba bawa ke tengah gurun sahara. Barangkali segelas air ada yang mau menukarnya dengan segepok dinar. Singkatnya, semua kenikmatan, besar maupun kecil harus disyukuri.
Ilustrasi berikut mungkin membantu. Ketika suami di hari gajian membawa amplop yang kandel kedeplik alias tebal, sang isteri menyambut dengan penuh suka-cita. Ketika suami datang pulang, tidak hanya cium tangan, bahkan sun pipi kiri sun pipi kanan.
Ketika semakin lama, karena semakin banyak potongan, amplop yang dibawa pulang semakin ipis nyempring alias tipis, boro-boro sun pipi, cium tangan pun sudah setengah maskul, alias baru nempel tangan suami setengah, sudah langsung ditarik lagi.
Padahal sebagaimana keimanan yang yazdaadu wa yankutsu yang naik-turun, demikian pula rezeki. Bagi petani adakalanya panen melimpah, adakalanya paceklik. Bagi pegawai adakalanya surplus sehingga bisa saving alias nabung, adakalanya bokek alias tekor. Kehidupan jadi mantab alias makan tabungan.
Nabi bersabda: man lam yasykuril qoliil lam yasykuril kabiir – barang siapa yang tidak mensyukuri kenikmatan kecil, dia tidak bisa mensyukuri kenikmatan besar.
Banyak sekali kenikmatan-kenikmatan kecil yang patut disyukuri. Isteri mengambilkan air minum. Suami membukakan pintu. Anak menyemirkan sepatu. Amal-solihan menyeterika baju. Dst, dst. Atas hal-hal kecil itu, biasakanlah mengucapkan kalimat syukur: Jazaakalloohu khoiron, atau Jazaakillaahu khoiron, atau Jazaakumulloohu koiron.
Percaya atau tidak, masih ada yang sudah puluhan tahun berumah-tangga dan sudah beranak pinak tapi belum tahu cara syukur ketika suami isteri selesai bersebadan. Siapa harus mensyukuri siapa? Dan bagaimana kalimat syukurnya? Masya Allah. Silahkan segera hubungi muballigh-muballighot terdekat, dan tidak usah malu untuk bertanya. Sip dah!

3. Hatwah
Inilah cara syukur yang paling sulit: Hatwah, kependekan dari “melihatlah ke bawah”. Jangan melihat dan membandingkan dengan orang yang di atas dalam hal dunia.
Sering mendengar kalimat-kalimat seperti berikut dibawah ini?
• “Tetangga sebelah sudah renovasi rumah, sedangkan kita? Atap bocor pun belum ditambal-tambal”.
• “Teman Bapak mobilnya sudah Mercy, sedangkan Bapak? Baru Kijang. Sudah belinya kredit, second-hand pula”
• “Teman Ibu resepsi anaknya di hotel berbintang 5, sedangkan aku? Selamatannya saja numpang sekalian di kantor KUA”

Itulah kalimat-kalimat yang sering terdengar, yang tanpa sadar melanggar perintah Nabi: undzuruu ilaa man huwa asfala minkum, walaa tandzuruu ilaa man huwa fauqokum – lihatlah kepada yang lebih rendah dari kamu sekalian, dan jangan melihat kepada yang lebih atas dari kamu sekalian.

Pada saat membandingkan dengan yang lebih atas, kemudian mengatakan sedangkan seperti contoh diatas, atau kata/kalimat sebangsanya, maka saat itu pula kesyukuran atas nikmat Alloh hilang, alias kufur.

Bagaimana seharusnya? Simak yang dibawah ini:
• “Alhamdulillaaah, kita sudah punya rumah walaupun atapnya bocor, sementara yang lain banyak yang masih numpang di rumah mertogu”
• “Alhamdulillaaah, Bapak sudah punya Kijang walaupun second-hand, sementara banyak yang lain masih turun-naik Mercy, tapi Mercy bus kota”
• “Alhamdulillaaah, aku bisa menyempurnakan keimanan mujhid-muzhid numpang selamatan sekalian di kantor KUA, sementara yang lain mampunya hanya sholat istikhoroooh terus”.

Pada kondisi yang persis sama, sangat berbeda sekali hasil dari “melihat ke atas” - Hattas dengan “melihat ke bawah” - Hatwah, bukan? Itulah salah-satu hadits yang sangat hebat, tentang bagaimana cara memandang suatu keadaan. Yang satu membawa kufur, sedangkan yang lain membawa syukur.
Ingin keimanan terpatri dengan kuat? Jadilah ahli syukur dengan mengamalkan Kurman-Kurcil-Hatwah.
Hare gene masih menyepelekan “serendah” apapun manusia? Masih menyepelekan “sekecil” apapun nikmat? Padahal semua datang dari Alloh? Hare gene masih keukeuh saja melihat ke atas? Padahal Nabi melarangnya? Fa aina tadzhabuun?

oleh : Ir.H. Teddy Suratmadji, MSc.

Batasan Pakaian laki-laki

Batasan pakaian laki-laki sebenarnya tidak seribet pada pakaian wanita. Laki-laki lebih diberikan keringanan dalam berpakaian. Sayangnya, masih banyak yang meremehkan masalah ini.

1. Alloh tidak menerima sholatnya seorang laki-laki yang melembrehkan pakaiannya

Melembrehkan pakaian berarti memakai pakaian bawah (sarung maupun celana) sampai di bawah mata kaki. Perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّي مُسْبِلاً إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ * رواه ابوداود كتاب اللباس

Artinya: Dari Abi Huroiroh, berkata dia: Pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang sedang sholat dengan melembrehkan sarungnya. Maka setelah selesai sholatnya, Nabi SAW bersabda: “Pergi dan berwudhulah kamu”. Maka orang tersebut pergi dan berwudhu kembali. Kemudian dia datang lagi, namun ditegur kembali oleh Nabi: “Pergi dan berwudhulah kamu”. Kemudian bertanya seorang laki-laki lain kepada Nabi: “Wahai Rosululloh, apakah maksudmu dengan memerintah orang tersebut agar berwudhu, kemudian engkau diam?” Nabi menjawab: “Sesungguhnya orang tersebut sholat, namun melembrehkan pakaiannya. Dan sesungguhnya Alloh yang Maha Tinggi tidak akan menerima sholatnya orang laki-laki yang melembrehkan pakaiannya”

Keterangan:

   1. Orang tersebut sholatnya tidak syah karena dia melembrehkan sarungnya, dalam hal ini termasuk juga dengan celana. Adapun Nabi menyuruhnya berwudhu bukan karena wudhunya batal, namun pekerjaan melembrehkan pakaian bagi laki-laki merupakan perbuatan yang salah. Oleh karena itu untuk menghapus dosa karena melakukan perbuatan salah itu, Nabi menyuruh orang tersebut berwudhu kembali, agar dosanya diampuni oleh Alloh.
   2. Penjelasan mengenai larangan bagi laki-laki untuk melembrehkan pakaiannya tidak hanya berlaku saat sedang sholat saja, namun berlaku dalam kehidupan sehari-hari seperti hadits selanjutnya

2. Batasan pakaian pria

عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ اْلإِ زَارِ فَقَال عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ أَوْ لاَ جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ * رواه ابوداود كتاب اللباس

Artinya: Dari ‘Ala’I Ibnu Abdir Rohman dari bapaknya (yaitu Abdir Rohman), berkata siapa Abdir Rohman: bertanya aku pada Aba Sa’id Al-khudriyya tentang pakaian. Maka berkata siapa Aba Sa’id: “Atas orang yang waspada, jatuh engkau (engkau telah bertanya kepada orang yang benar)”. Bersabda siapa Nabi SAW: “Pakaian bawahnya orang Islam (laki-laki) sampai separuh betis, dan tidak dosa apabila di antara betis dan kedua mata kaki. Adapun yang di bawah kedua mata kaki, maka orang tersebut di dalam neraka. Orang yang melembrehkan pada pakaian bawahnya karena sombong, maka Alloh tidak akan melihat padanya (di akhirat)

Keterangan:

Aurat laki-laki adalah antara setengah betis (di bawah lutut) sampai mata kaki. Adapun jika seorang laki-laki mengenakan pakaian di bawah mata kaki tidak akan dilihat oleh Alloh dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Hadits ini menerangkan bahwa ketentuan pakaian laki-laki untuk tidak menutupi mata kaki ini bukan hanya untuk sholat saja, namun juga berlaku saat melakukan kegiatan sehari-hari. Adapun penjelasan orang yang sombong adalah orang yang tidak mau menerima barang yang haq (Qur’an dan Hadits) dan menolak kebenaran. Jadi jika tidak ada niat sombong mengenakan pakaian di bawah mata kaki bukan berarti tidak apa-apa, karena ancamannya seperti yang disebutkan di atas.

Batasan Pakaian Wanita

Saat ini, kita sering melihat wanita yang mengenakan kerudung/jilbab, yang tujuannya adalah menutup aurat mereka. Tetapi, seperti apakah pakaian yang benar bagi wanita?

1. Menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan

Firman Alloh dalam Q.S. An-Nur 31

... وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا ... الأية * سورة النور 31

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya (yaitu wajah dan telapak tangan)

وَ قَالَ اْلأَعْمَشُ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَ قَالَ : وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا وَالْخَاتَمَ * تفسير ابن كثير

Dan berkata A’mas dari Said bin jubair dari Ibnu abbas: Dan jangan menampakkan perhiasan kecuali apa-apa yang [boleh] nampak darinya, yaitu wajahnya dan telapak tangannya dan cincinnya (jarinya).

Dari ayat dan hadits tersebut terlihat bahwa semua tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangannya

2. Wanita diberikan kemurahan untuk memperlihatkan wajah dan kedua telapak tangannya

Di beberapa negara jazirah Arab, banyak wanita yang mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya. Hal ini kadang dipersepsikan orang bahwa mengenakan cadar itu adalah wajib hukumnya bagi wanita Islam. Padahal mereka melakukan itu karena faktor keamanan.

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَوِي عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَأَخَذَ الْفَضْلُ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا وَكَانَتِ امْرَأَةً حَسْنَاءَ وَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ فَحَوَّلَ وَجْهَهُ مِنَ الشِّقِّ الْآخَرِ * رواه النسائي والبخاري ومسلم

Sesungguhnya Ibnu Abas memberi kabar kepada Sulaiman bin Yasar bahwa ada wanita dari daerah khos’am meminta petuah kepada Rosululloh SAW pada waktu haji wada’ (pada waktu itu Rosululloh memboncengkan Fadhl bin Abbas). Wanita tersebut berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya perintah wajib dari Alloh kepada hambanya tentang haji jatuh kepada Bapak saya yang telah tua renta yang tidak bisa naik kendaraan, apakah saya harus mewakili haji Bapak saya?”. Maka Rosululloh menjawab “Ya”. Fadhl bin Abbas melihat wanita tersebut dan wanita tersebut cantik. Lalu Rosululloh SAW memalingkan wajah Fadhl bin Abbas ke arah yang lain.

Dari hadits di atas, Fadhl dapat melihat kecantikan wanita tersebut. Adalah tidak mungkin bagi Fadhl dapat menilai kecantikan seorang wanita jika wanita tersebut mengenakan cadar. Dan Nabi pun tidak menegur wanita tersebut. Jika wanita tersebut salah dalam berpakaian, tentunya Nabi menegur. Adapun Fadhl dipalingkan wajahnya oleh Nabi adalah untuk mengingatkan Fadhl agar matanya tidak terus terpaku kepada wanita tersebut.

3. Menutupkan kain kerudung ke dadanya

Firman Alloh di Q.S. An-Nur 31

... وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ... الأية * سورة النور 31

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya

Ayat di atas menerangkan bahwa wanita hendaknya menutupkan lepasan/lebihan kain kerudung yang dipakaikan untuk menutupi rambutnya ke dadanya. Jadi lebihan kerudung tersebut bukan untuk diikat-ikat, dipuntir-puntir, atau diselempangkan sehingga terlihat bentuk dadanya, bahkan lehernya pun terlihat, terutama jika mengenakan baju yang kebetulan bagian lehernya agak terbuka.

4. Pakaian yang tidak ketat atau tipis (transparan)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا * رواه مسلم كتاب اللباس

Rosululloh SAW bersabda : Dua golongan termasuk ahli neraka yang belum aku lihat yaitu: Kaum yang bersama mereka beberapa cambuk seperti ekornya sapi, mereka mencambuki manusia dengan cambuk tersebut. Dan wanita-wanita yang berpakaian lagi telanjang (memakai pakaian, tetapi tipis atau ketat) yang menyimpangkan (memberikan pengaruh buruk kepada orang lain) lagi menyeleweng. Kepala mereka seperti punuknya unta yang condong (rambutnya dibuat berbagai macam model), mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya surga dan sesungguhnya baunya surga niscaya dijumpai dari perjalanan sekian dan sekian (40 tahun).

Dari hadits di atas diterangkan bahwa wanita yang mengenakan pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya atau mengenakan pakaian yang tipis tidak akan bisa masuk surga, bahkan tidak akan bisa mencium baunya surga. Padahal baunya surga itu tercium dalam jarak perjalanan 40 tahun. Di akhirat nanti, bukankah hanya ada dua tempat?

Monday, 28 December 2009

Peringatan atau Takdir

Menurut Islam, dalam kehidupan ini memang ada yang dinamakan sunnatullah atau hukum Allah atau hukum alam atau sering disebut juga sebagai natural law (nature's law). Contoh sederhananya seperti batu yang dilempar ke atas akan turun lagi ke bumi berdasarkan hukum gravitasi. Contoh yang lain, sifat dasar air adalah dingin sementara sifat api adalah panas dan membakar. Di antara hukum alam yang lain, secara umum orang yang rajin belajar akan pandai dan orang yang hemat akan kaya.
Termasuk juga peristiwa-peristiwa alam seperti longsor, banjir, atau gempa bumi baik yang tsunamigenic maupun yang bukan, semua selaras dan comply dengan hukum Allah sang pencipta jagat raya ini. Kesemua ini juga bisa dijelaskan secara fisis dan saintifik (insyaAlloh akan saya jelaskan tentang gempa bumi & daerah mana aja yg potensinya tinggi di lain waktu).

Tapi seperti yg kita ketahui dalam kehidupan ini dikenal juga apa yang dinamakan Qadarullah (taqdir atau ketetapan atau kehendak Allah). Kehendak Alloh tentunya sesuai dengan apa saja yang dikehendaki Alloh baik itu yang terasa menyenangkan hati kita berupa kenikmatan maupun yang terasa tidak menyenangkan seperti kematian atau musibah lainnya, dsb.

Yang harus diketahui juga, bahwa Qadarullah ini terkadang selaras dengan sunnatullah terkadang juga tidak karena terserah dan suka-suka Allah saja. Sebagai contoh, dalam AlQur'an diceritakan ketika nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh raja Namruz, maka based on sunnatullah, nabi Ibrahim
mestinya gosong jadi abu tanpa sisa sedikitpun jasadnya. Namun Qadarullah berbicara lain, api yang sejatinya sifat fisisnya adalah panas maka, suka-suka Allah untuk merubah hukumNya sendiri berkaitan tentang api tersebut yang sifat awalnya panas berubah jadi dingin sehingga nabiyullah
Ibrahim malah menggigil. Begitu juga ketika laut merah harus terbelah agar bangsa bani israil bersama nabi Musa bisa berjalan melewati lautan tersebut saat dikejar Fir'aun (Ramses II) yang jasadnya masih tersimpan di Egypt sampai saat ini. Jadi memang kehendak Allah ini tidak mesti selalu selaras
dengan sunnatullah- Nya. Qadarullah ini berkaitan juga dengan biidznillah atau dengan izin dari Allah.
Hadits yang bisa kita renungkan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي
كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ  ٢٢)

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Hal ini kami ceritakan) agar engkau tidak terlalu bersedih ketika terkena
bencana atau tidak terlalu bergembira ketika luput daripadanya. Dan sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS: Al-Hadid: 22-23).

"Alloh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi." (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash radhiyallahu 'anhu)

"Jika Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Alloh akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Alloh menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Alloh akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak." (HR.Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu).

Semoga musibah ini adalah bukti bahwa Alloh menghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:

"Barangsiapa dikehendaki oleh Alloh suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Alloh akan menimpakan baginya musibah." (HR. Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
"Cobaan akan terus senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah (meninggal) dan tidak ada padanya satu dosapun (tidak menanggung satu dosapun).(HR. Attirmidzi dari shahabat Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu).


Sebenarnya kalau kita sadari, ujian atau cobaan bagi orang lain adalah ujian atau cobaan bagi yang lainnya. Terlepas dari momen-momen kejadian musibah yang bertepatan atau tidak bertepatan dengan terjemahan tertentu ayat-ayat di AlQur'an. Dan meskipun semua faktor-faktor terjadinya musibah tersebut sifatnya scientific dan bisa re-engineering/ mitigasi, dsb, sejatinya kita sebagai manusia berusaha merendahkan diri dihadapan Alloh dan kekuasaanya yang serba
maha, yang menghidupkan kita, yang mematikan dan maha berkehendak atas segala sesuatu makhluk ciptaan-Nya. Kita hanya bisa berencana tapi Alloh maha berkehendak. Man proposes, God disposes. We are nothing in front of God!

Sebenarnya hakikat dari sesuatu itu disebut rahmat atau ujian, sangat mudah parameternya. Cukup tanyakan bagi yang tertimpa penderitaan, apakah penderitaannya itu membuatnya lebih dekat atau lebih jauh dengan Alloh yang menciptakannya atau tidak? kalau itu membuatnya lebih dekat, hakikatnya penderitaan itu adalah rahmat baginya.

Sebaliknya tanyakan kepada yang mendapat kesenangan duniawai, apakah hal tersebut membuatnya lebih dekat atau lebih jauh dengan Alloh yang telah memberikannya kenikmatan tersebut atau malah menjauhkannya? kalau membuatnya lebih jauh, sungguh sejatinya itu adalah musibah.

Jadi dapatkah dikatakan musibah adalah Ujian?

Musibah adalah bentuk ujian dari Alloh, dapat berupa hal yang baik ataupun yang buruk.

Namun perlu kita pahami bahwa definisi hal baik dan hal buruk adalah berasal dari logika manusia.

Hal yang baik dan buruk menurut manusia bukanlah hal yang mutlak, terkadang lebih ke problema “rasa” saja. Beberapa ulama mengatakan bahwa buruknya takdir hanya dilihat dari sisi mahluk saja, sedangkan ditinjau dari Sang Pencipta Takdir, semua takdir adalah baik.

Musibah apapun yang menimpa, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari enam perkara :

Pertama, sebagai ujian keimanan.

Kedua, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan.

Ketiga, sebagai bukti cinta Alloh terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Alloh mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”. (HR. Ahmad dan al-Thabrani)

Keempat, sebagai tanda bahwa Alloh menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Alloh bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah.

Kelima, sebagai teguran atau peringatan.

Keenam, sebagai siksa Alloh di dunia.

Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Alloh meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”. (HR. Abu Dawud)

"Siapapun yg tertimpa musibah, hendaknya ia menyadari bahwa Zat yang menimpakan cobaan adalah Hakim yang seadil-adilnya, Tuhan yang Maha Penyayang. Sesungguhnya, cobaan yang Dia tempakan tidak untuk menghancurkannya, tidak untuk menyiksanya, dan tidak pula untuk membinasakannya. Namun, Dia menempatkan musibah untuk menguji kesabaran, keridhoan, dan keimanan. Ujian dan musibah datang demi mendengar kerendahan dan keimanannya, demi melihat simpuh khusyuk di hadapan-Nya, teguh disisi-Nya, luluh di hadapan-Nya, dan pekikan aduan kepada-Nya"

Dalam suatu hadits shahih Rasulullah memang pernah mengatakan bahwa, ketika suatu kaum atau bangsa diadzab maka adzab tidak akan pilih-pilih. Siapapun akan terkena adzab, tidak peduali dia orang sangat baik di mata orang lain maupun orang jahat. Dan kata Rasulullah, seseorang kelak akan
dibangkitkan sesuai dengan keadaan dan kondisi keimanannya masing-masing ketika bencana itu datang. Itulah sebabnya kita perlu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan, Addina nasihatan. Ada yang mengatakan bahwa dunia ini ibarat perahu yang sedang berlayar, karena itu ketika ada salah satu penumpang membocori kapal atau perahu tsb maka hendaknya kita mencegahnya
atau kita semuanya akan tenggelam. Disinilah kenapa amal ma'ruf (menganjurkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah keburukan/kerusakan ) disuatu negeri diperlukan atau atau "perahu dunia" ini akan tenggelam?
Tentunya dengan cara-cara yang baik dan wise, bil hikmah wal mau'idhatul hasanah...

Sesungguhnya kebenaran hanyalah dari Alloh, kesalahan atau salah kutip Al-quran/hadist ada pada penulis yg serba kekurangan ini.
Alhamdulillah Jazakumullahu khoiran,

Friday, 25 December 2009

Jangan Pernah Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalkani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa.......

Thursday, 17 December 2009

Siapa bilang jadi muslimah berat...

Kaum feminis bilang susah jadi WANITA(baca Muslimah), lihat saja peraturan di bawah ini:
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak dari pada laki2.)
2. Wanita perlu meminta izin suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3.Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki
4. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan sakitnya melahirkan anak
5. Wanita wajib taat pada suaminya , sementara suami tidak perlu taat kepada istrinya.
6.Talak terletak di tangan suami dan bukan di tangan istri
7. Wanita kurang dalam beribadat karna adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki


PERNAHKAH PARA WANITA MELIHAT SEBALIKNYA(KENYATAANNYA):

1. Sesuatu yang mahal harganya dan sangat bernilai tentu akan disimpan dan dijaga sedemikian mungkin… Coba bayangkan, sudah sepatutnya intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Begitu juga dengan perempuan yang di jaga dengan hijab (jilbab).
2. Wanita memang perlu taat kepada suami, tetapi tahukah anda kalau lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada ayahnya.
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah kita bahwasanya harta yang yang diterima wanita adalah mutlak miliknya pribadi dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya,sementar apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib menggunakan hartanya Untuk istri dan anaknya.
4. Wanita perlu bersusah payah melahirkan seorang bayi , tetapi bukankah saat itu ia akan di doakan seluruh makhluk dan malaikat, dan tahukah anda kalau ia meninggal karna melahirkan maka syahidlah balasannya dan surga menantinya.
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggung jawabkan terhadap 4 wanita yaitu : istrinya,ibunya, anak perempuannya,dan saudara perempuannya, artinya seorang wanitadi akhirat kelak akan Ditanggung oleh suami,ayah,anak lelakinya dan saudar lelakinya. Tidakkah itu kebahagian untuk anda…
6. Seorang wanita boleh memasuki pintu surga yang ia kehendaki, cukup dengan 4 syarat saja:Shalat 5 waktu,puasa ramadhan,taat pada suami dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad fi sabilillah , sedangkan wanita apabila ia taat pada suaminya dan menunaikan tanggung jawabnya pada allah maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti pahala suaminya yang berjihad.

BERBAHAGIALAH WAHAI PARA MUSLIMAH, JANGAN RISAU HANYA UNTUK APRESIASI ABSURD DAN SEMU DI DUNIA INI. TUNAIKAN DAN TEGAKKAN KEWAJIBAN AGAMAMU NISCAYA SURGA MENANTIMU.

Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2666705

Nyamuk..

”Enough is not enough when we can get more.” Mungkin anda pernah mendengar ungkapan itu. Cukup itu tidaklah cukup, jika kita bisa memperoleh lebih banyak lagi. Dalam konteks tidak cepat berpuas diri, kalimat itu sungguh sangat memotivasi. Karenanya, ketika kita berhasil meraih pencapaian hingga tahap tertentu, maka kita terus memacu diri. Namun, dalam konteks pengendalian hawa nafsu, kita perlu menggunakan sudut pandang yang berbeda sama sekali. Sebab, hawa nafsu yang tidak mengenal batas membentuk kita menjadi pribadi serakah (greedy), sehingga ’mengambil lebih banyak lagi’ menjadi dogma yang mesti kita patuhi. Sampai-sampai, kita tidak bisa membedakan antara semangat
untuk terus mengeksplorasi kapasitas diri dengan keserakahan.

Dipenghujung musim hujan, para nyamuk menggeliat bangun. Sehingga, pada masa-masa awal musim kemarau seperti saat ini dirumah saya sudah mulai beterbangan mahluk haus darah itu. Jika sudah begitu, ketenangan malam-malam kami menjadi terusik. Kami sering dibuat tidak berdaya untuk menangkis serangan-serangan udara layaknya pesawat tempur canggih yang menggempur pemukiman penduduk yang tak berdaya. Hebatnya lagi, nyamuk jaman sekarang sudah semakin canggih melakukan manuver sehingga jangan harap bisa menepuknya ketika dia terbang. Bahkan, ketika dia menggigitpun tingkat kewaspadaannya tetap tinggi. Jadi, saat kita menepuk, dia cepat-cepat terbang lagi. Nyamuk lolos, malah paha kita yang terasa pedas karena terkena pukulan sendiri.

Tapi, tentu Anda tahu bahwa ada ’saat dimana kita bisa menangkap’ nyamuk dengan amat sangat mudah. Yaitu, ketika nyamuk sedang kekenyangan. Ketika kenyang, nyamuk tidak bisa terbang. Boro-boro terbang, untuk sekedar bergerak saja sudah sulit. Sehingga, kita bisa menepuknya dengan teramat gampang.

Setiap kali saya mendapati nyamuk kekenyangan seperti itu saya selalu memiliki dua perasaan yang bercampur baur. Pertama, perasaan puas, karena anda tahulah apa yang saya lakukan kepada nyamuk yang telah menyakiti anak-anak saya yang tengah tertidur pulas itu. Kedua perasaan miris. Miris? Iya. Karena saya melihat sifat nyamuk itu didalam diri saya. Setelah saya memikirkan dalam-dalam, ternyata bukan hanya nyamuk yang memiliki sifat serakah, tetapi juga manusia. Bahkan, mungkin manusia lebih serakah dari nyamuk. Nyamuk memang serakah. Tetapi, yang dia ambil hanya sebatas memenuhi isi perutnya. Tetapi, keberhasilan manusia untuk memenuhi seluruh rongga perutnya tidak akan pernah berhasil menghentikan hasratnya untuk ’mengambil lebih banyak’ lagi. Sebab, selain memiliki
rongga perut untuk menyimpan, manusia juga memiliki bank, surat berharga, emas batangan, dan berbagai macam bentuk penyimpanan lainnya. Karena kapasitas tempat penyimpanan itu nyaris tidak terbatas, maka cocoklah dengan sifat rakus manusia yang tidak kenal batas ini.

Seandainya nyamuk itu tidak mengumbar nafsu serakahnya, misalnya dengan menghisap darah secukupnya saja, mungkin dia akan tetap bisa menyelamatkan diri. Tetapi, keserakahan telah menjadikan dirinya terlampau bernafsu untuk mengambil sebanyak-banyaknya sehingga perutnya kepenuhan. Dan karenanya dia menjadi tidak berdaya. Kita sudah melihat begitu banyak bukti bahwa manusia-manusia yang serakah seringkali pada akhirnya harus berhadapan dengan hukum, dan bermuara dibalik jeruji penjara. Jika pun mereka bisa meloloskan diri, mereka harus berpura-pura menjadi manusia terhormat, padahal namanya terpampang dalam DPO alias daftar pencarian orang dengan titel buronan.

Sungguh beruntung bagi sang nyamuk. Sebab, dia hanya berurusan dengan dunia. Sedangkan manusia? Selain dunia, kita memiliki urusan dengan akhirat. Jika nyamuk serakah mati, maka mati pulalah semua ’dosa’ yang pernah diperbuatnya. Namun, jika manusia mati, maka abadilah ’semua amal perbuatannya’. Jika amal itu baik, maka kebaikan itu akan menjadi bekal kehidupan sesudah kematiannya. Namun, jika amal perbuatannya itu berupa keburukan; akan tetap menjadi beban bagi kehidupan keduanya kelak. Padahal, hidup kelak beda dengan hidup kini. Kini, uang bisa menjadi hakim pengganti hukum. Namun nanti, uang tidak bernilai lagi.

Tiba-tiba saja saya merasa beruntung karena ’tidak memiliki kesempatan’ untuk melampiaskan semua bentuk keserakahan itu. Saya bersyukur karenanya. Sebab, seandainya saja saya mendapatkan kesempatan itu; mungkin saya tidak akan mampu mengendalikan nafsu serakah ini. Tetapi, saya juga merasa miris lagi. Karena, meski tidak seserakah itu; saya masih memiliki bibit keserakahan dihati ini. Sehingga, kadang-kadang saya begitu egoisnya sampai berani mengabaikan kepentingan orang lain.

Hari ini, saya belajar sesuatu dari sang nyamuk. Bahwa jikapun kita harus mengambil, maka kita hanya berhak mengambil sesuai dengan hak kita. Yaitu sejumlah kadar kepantasan tertentu. Jika kita mengambil melebihi tingkat kepantasan itu, maka kita telah berubah menjadi mahluk yang lebih rendah dari sang nyamuk. Sebab, keserakahan nyamuk dibatasi oleh ukuran perutnya. Sedangkan keserakahan kita, hanya dibatasi oleh kematian. Sifat serakah kita tidak mati sebelum kita sendiri yang mati. Sementara dalam serakahnya itu, sang nyamuk mati dalam seluruh kebaikan hidup. Sebab, ketika dia mati, dia datang menghadap Tuhan. Lalu dia katakan; ”Tuhan, saya sudah menunaikan tugas yang Engkau perintahkan.” Maka malaikat yang mendampinginya
berkata; ”Tuhanku, sesungguhnya kami menyaksikan hambamu ini menunaikan tugasnya seperti yang Engkau perintahkan. ...”

Lalu batin saya bertanya kepada sang malaikat. ”Wahai Malaikat suci, apakah sesungguhnya tugas yang Tuhan berikan kepada sang nyamuk itu?” Balas malaikat :”Tuhan menugaskan nyamuk untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia, agar mereka menghindari sifat serakah dan berlebih-lebihan. ....” Lalu pagi itu, saya terbangun dengan beberapa ekor nyamuk yang gemuk. Saya kesal karena dia telah mengambil darah dari tubuh ini. Namun, saya juga kagum kepadanya. Karena demi menjalankan perintah Tuhan, dia rela untuk mengorbankan dirinya. Sehingga para manusia, bisa menarik pelajaran penting darinya....

Keep ur Spirit !!

Menerima fakta itu membantu hati saya untuk menyadari bahwa; meskipun setiap hari kita melintasi jalan kehidupan yang penuh resiko, tapi ternyata kita tidak selamanya mengalami kejadian ’semengerikan’ itu. Tengok kebelakang barang sejenak. Lima tahun yang lalu, misalnya, kita tidak bisa membayangkan bagaimana caranya menjalani kehidupan selama lima tahun kedepan. Namun, kenyataannya adalah; kita sudah menjalani waktu lima tahun terakhir ini hingga saat ini, dengan ’tanpa terasa’. Hebatnya lagi, ternyata kita baik-baik saja.

Sekarang, mari kita berdiri disebuah titik yang kita sebut sebagai ’saat ini’, lalu memandang jauh kemasa depan. Apakah kita merasakan kegalauan itu? Kita galau karena tidak ada kepastian akan masa depan kita. Tetapi, mari kita tengok beberapa tahun lalu ke belakang ketika kita merasakan kegalauan yang sama. Kita bisa sampai di titik ini, dengan selamat. Oleh karena itu, meski saat ini kita didera galau yang sama ketika memandang masa depan; semoga kita masih memiliki kekuatan untuk meyakini bahwa kita akan berhasil melewati masa depan itu seperti halnya kita telah berhasil melampaui masa lalu kita.

Melangkah menjalani hidup ini; adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada menyerah dan berdiam diri. Sebab, saat kita menyerah; kita melewatkan beribu kesempatan dan kemungkinan untuk memperoleh anugerah yang kita sendiri tidak pernah tahu sebesar apa. Sebaliknya, saat kita berserah diri kepada keberpihakan Alloh terhadap kesuksesan kita, lalu kita memohon ijin kepada-Nya untuk berikhtiar; maka kita memiliki harapan untuk berhasil melintasi perjalanan hidup ini dengan baik. Dan, tanpa terasa; kita bisa tiba diakhir perjalanan yang telah Alloh tentukan untuk kita. Lalu saat itu kita boleh kerkata; ”Ya Alloh, telah kutunaikan seluruh panggilan-Mu. Dengan segala kurang dan lebihku. Dan kini,
ijinkan aku untuk menyerahkan penilaian akhir kepada-Mu....”


Sunday, 13 December 2009

Amalan Pendatang Rizqi


1. Memperbanyak istighfar kepada Alloh

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا * سورة نوح 10-12

Maka berkata aku (Nuh): “Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia (Tuhan/Alloh) adalah Maha Pengampun”. (Dia) akan mengutus langit untuk menurunkan hujan yang lebat kepada kalian. Dan akan menambah pada kalian dengan harta dan anak; dan menjadikan kebun dan sungai pada kamu sekalian

Keterangan:

Dengan banyak membaca istighfar, maka Alloh akan mengampuni dosa-dosa kita (pengampunannya tentu tergantung dengan dosa-dosa yang kita perbuat). Jika kita rajin membaca istighfar, maka Alloh juga akan menambah rezeki kepada kita, yang pada ayat di atas digambarkan dengan banyaknya harta dan anak, dan adanya kebun dan sungai.

مَنْ أَكْثَرَ مِنَ اْلاِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ * رواه أخمد

“Barang siapa yang memperbanyak dari istighfar, maka menjadikan Alloh dari tiap-tiap kesusahan (pada) kelonggaran/kemudahan, dan dari tiap-tiap kesempitan (pada) jalan keluar, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak diduga.”

Keterangan:

Siapa saja yang memperbanyak membaca istighfar akan dimudahkan oleh Alloh jika menemui kesulitan, akan diberikan jalan keluar jika mengalami masalah, dan akan diberikan rezeki yang tidak disangka-disangka sebelumnya.

2. Memperbanyak sodaqoh/infak fisabilillah

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ * سورة سبإ 39

Dan semua yang kamu infakkan, maka Alloh akan menggantinya. Dan Alloh adalah sebaik-baiknya zat yang memberi rezeki.

Keterangan:

Alloh akan mengganti semua yang diinfakkan oleh manusia, baik kecil maupun besar, karena Alloh memiliki kuasa untuk memberikan rezeki. Dalam beberapa hadits lainnya justru diterangkan bahwa Alloh akan mengganti harta yang diinfakkan dengan nilai yang jauh lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat.

قَالَ اللَّهُ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ * رواه البخاري

Alloh berfirman: “Berinfaklah kamu, maka berinfak aku padamu”

Keterangan:

Jika kita berinfak atau memberikan shodaqoh di jalan Alloh, Alloh berjanji akan meng-infakkan kita kembali, atau memberikan ganti dari harta yang kita infakkan tersebut. Dalam hal ini, yang diberikan oleh Alloh bisa berupa harta ataupun hal-hal lain yang mungkin lebih berarti dari harta yang kita infakkan.

3. Memperbanyak shilaturrohim

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ * رواه البخاري

“Barang siapa yang senang jika dibentangkan rezeki kepadanya dan dipanjangkan umurnya maka menyambunglah pada famili/keluarganya.”

Keterangan

Orang yang senang bersilaturrohim akan dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Silaturrohim di sini adalah mengunjungi keluarga atau sanak famili kita, terutama yang sudah jarang sekali bertemu. Adapun umur yang dipanjangkan ada dua pengertian, yaitu umur yang memang lebih dipanjangkan oleh Alloh, atau kehidupan yang lebih baik, sehingga umur yang dirasakan lebih bermanfaat.

4. Senang menghormati tamu

الضَّيْفُ يَأْتِى بِرِزْقِهِ وَيَرْتَحِلُ بِذُنُوْبِ الْقَوْمِ يُمَحِّصُ عَنْهُمْ ذُنُوْ بَهُمْ * رواه ابو الشيخ

Tamu datang dengan rezekinya dan pergi dengan dosa kaum (tuan rumah), membersihkan dari mereka (tamu) (pada) dosa-dosa mereka (tuan rumah)

Keterangan:

Kedatangan tamu membawa rezeki bagi tuan rumah. Selain itu dengan perginya tamu, maka dosa-dosa yang dimiliki oleh rumah dibersihkan (dihapus) seiring dengan perginya tamu. Perlu dicatat bahwa dalam hal ini bukan berarti yang bertamu kehilangan rezeki dan menanggung dosa :-).

5. Berusaha menjadi orang yang jujur / amanah

اْلأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخيانة تَجْلِبُ الْفَقْرَ * رواه الديلمي

Amanah itu menarik rezeki, dan khianat itu menarik kemelaratan

Keterangan

Sifat amanah atau dapat dipercaya itu dapat menarik rezeki, karena biasanya orang yang jujur dan dapat dipercaya akan disukai oleh banyak orang dan makin lama makin jujur, kepercayaan akan semakin diberikan dan akan semakin banyak menambah rezeki. Sebaliknya, orang yang tidak jujur, tidak bisa menjaga amanah atau khianat, biasanya akan dijauhi banyak orang sehingga menjadi melarat karena tidak ada perantara yang memberikan rezeki padanya.

6. Meningkatkan taqwa kepada Alloh (mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ ...الأية * سورة الطلاق 2-3

Dan barang siapa yang taqwa kepada Alloh, Alloh akan menjadikan padanya jalan keluar, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِخَطِيئَةٍ يَعْمَلُهَا * رواه ابن ماجة

Dan sesungguhnya seorang laki-laki dihalang-halangi (atas) rezeki dengan kesalahan yang dia amalkan.

Keterangan

Dari ayat Al-Qur’an dan hadits di atas bisa kita lihat bahwa Alloh akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi jika kita bertaqwa kepada Alloh. Selain itu, Alloh akan memberikan rezeki dari arah yang tidak kita duga sebelumnya jika kita bisa selalu bertaqwa kepada Alloh. Misalnya tiba-tiba kita mendapatkan pekerjaan yang hasilnya besar, namun hanya memerlukan sedikit usaha.

Sedangkan jika kita kesulitan mendapatkan rezeki, mungkin kita perlu mengoreksi diri kita, apakah kita banyak berbuat salah dan belum kita taubati. Namun jika ternyata kita sudah bertaqwa kepada Alloh, berusaha menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, namun tidak diberi rezeki yang mencukupi, mungkin cobaan melarat ini adalah baik bagi kita.

Jika kita tetap melarat walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin, mungkin kita adalah termasuk hamba Alloh yang jika dicoba kaya tidak mau bersyukur seperti Qorun, yang tidak mau ber-infak dan berzakat setelah menjadi kaya, namun menganggap bahwa usahanya selama ini adalah karena kepandaiannya dan bukan pemberian dari Alloh.

7. Memperbanyak tawakal kepada Alloh

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ...الأية * سورة الطلاق 3

Barang siapa yang bertawakal kepada Alloh, maka Alloh akan mencukupinya.

Keterangan

Sifat tawakal adalah sifat berserah diri dan bisa menerima apa yang diberikan oleh Alloh kepada kita, apa yang Alloh qodarkan kepada kita. Insya Alloh, bila kita bisa bertawakal, maka pertolongan Alloh akan datang.

8. Selalu husnudzon billah (berprasangka baik kepada Alloh)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي * رواه مسلم

Dari Abu Huroiroh, berkata dia: Bersabda Rosululloh SAW: Sesungguhnya Alloh berfirman: “Aku di sisi persangkaan hambaku padaku, dan aku bersamanya ketika berdoa dia padaku.”

Keterangan

Sebagai hamba Alloh, kita harus selalu berprasangka baik akan semua yang diberikan oleh Alloh kepada kita, misalnya selalu bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Alloh kepada kita walaupun kecil/sedikit, dan tetap berprasangka baik bahwa Alloh akan memberikan yang paling baik kepada kita.

Insya Alloh dengan terus berprasangka baik, Alloh akan terus membantu kita sesuai dengan persangkaan kita tersebut. Namun tentunya kita juga harus terus berusaha, jangan hanya menerima apa adanya tanpa mau berusaha.

9. Menertibkan sholat tahajud dan do’a di sepertiga malam yang akhir

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ * رواه البخاري

Akan turun Tuhan kami yang Maha Barokah dan Maha Luhur setiap malam sampai ke langit dunia sehingga tetap pada 1/3 malam yang akhir. Maka Alloh berfirman : “Barang siapa yang berdoa padaku, maka mengabulkan aku baginya. Barang siapa yang minta padaku, maka aku akan memberikan padanya. Barang siapa yang minta ampun padaku, maka mengampuni aku padanya.”

Keterangan

Berdasarkan hadits di atas, Alloh akan mengabulkan do’a hambanya jika rajin berdo’a pada 1/3 malam yang akhir (sekitar pukul satu pagi sampai menjelang subuh), termasuk bagi orang yang dicoba melarat dan meminta kehidupan yang lebih baik. Orang yang meminta ampun juga diampuni oleh Alloh.

Namun perlu diingat pula bahwa dari hadits lain dijelaskan pula bahwa ada 3 cara Alloh mengabulkan do’a hambanya, yaitu: (1) langsung dikabulkan, (2) ditunda, (3) diganti, entah diganti di dunia maupun di akhirat nanti, mungkin apa yang kita minta tidak baik untuk diri kita. Oleh karena itu, kita jangan sampai putus asa dalam berdo’a, selalu husnudzon billah bahwa Alloh akan mengabulkan setiap do’a yang kita pinta.