Menurut Islam, dalam kehidupan ini memang ada yang dinamakan sunnatullah atau hukum Allah atau hukum alam atau sering disebut juga sebagai natural law (nature's law). Contoh sederhananya seperti batu yang dilempar ke atas akan turun lagi ke bumi berdasarkan hukum gravitasi. Contoh yang lain, sifat dasar air adalah dingin sementara sifat api adalah panas dan membakar. Di antara hukum alam yang lain, secara umum orang yang rajin belajar akan pandai dan orang yang hemat akan kaya.
Termasuk juga peristiwa-peristiwa alam seperti longsor, banjir, atau gempa bumi baik yang tsunamigenic maupun yang bukan, semua selaras dan comply dengan hukum Allah sang pencipta jagat raya ini. Kesemua ini juga bisa dijelaskan secara fisis dan saintifik (insyaAlloh akan saya jelaskan tentang gempa bumi & daerah mana aja yg potensinya tinggi di lain waktu).
Tapi seperti yg kita ketahui dalam kehidupan ini dikenal juga apa yang dinamakan Qadarullah (taqdir atau ketetapan atau kehendak Allah). Kehendak Alloh tentunya sesuai dengan apa saja yang dikehendaki Alloh baik itu yang terasa menyenangkan hati kita berupa kenikmatan maupun yang terasa tidak menyenangkan seperti kematian atau musibah lainnya, dsb.
Yang harus diketahui juga, bahwa Qadarullah ini terkadang selaras dengan sunnatullah terkadang juga tidak karena terserah dan suka-suka Allah saja. Sebagai contoh, dalam AlQur'an diceritakan ketika nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh raja Namruz, maka based on sunnatullah, nabi Ibrahim
mestinya gosong jadi abu tanpa sisa sedikitpun jasadnya. Namun Qadarullah berbicara lain, api yang sejatinya sifat fisisnya adalah panas maka, suka-suka Allah untuk merubah hukumNya sendiri berkaitan tentang api tersebut yang sifat awalnya panas berubah jadi dingin sehingga nabiyullah
Ibrahim malah menggigil. Begitu juga ketika laut merah harus terbelah agar bangsa bani israil bersama nabi Musa bisa berjalan melewati lautan tersebut saat dikejar Fir'aun (Ramses II) yang jasadnya masih tersimpan di Egypt sampai saat ini. Jadi memang kehendak Allah ini tidak mesti selalu selaras
dengan sunnatullah- Nya. Qadarullah ini berkaitan juga dengan biidznillah atau dengan izin dari Allah.
Hadits yang bisa kita renungkan:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي
كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ٢٢)
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Hal ini kami ceritakan) agar engkau tidak terlalu bersedih ketika terkena
bencana atau tidak terlalu bergembira ketika luput daripadanya. Dan sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS: Al-Hadid: 22-23).
"Alloh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi." (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash radhiyallahu 'anhu)
"Jika Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Alloh akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Alloh menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Alloh akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak." (HR.Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu).
Semoga musibah ini adalah bukti bahwa Alloh menghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:
"Barangsiapa dikehendaki oleh Alloh suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Alloh akan menimpakan baginya musibah." (HR. Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
"Cobaan akan terus senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah (meninggal) dan tidak ada padanya satu dosapun (tidak menanggung satu dosapun).(HR. Attirmidzi dari shahabat Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu).
Sebenarnya kalau kita sadari, ujian atau cobaan bagi orang lain adalah ujian atau cobaan bagi yang lainnya. Terlepas dari momen-momen kejadian musibah yang bertepatan atau tidak bertepatan dengan terjemahan tertentu ayat-ayat di AlQur'an. Dan meskipun semua faktor-faktor terjadinya musibah tersebut sifatnya scientific dan bisa re-engineering/ mitigasi, dsb, sejatinya kita sebagai manusia berusaha merendahkan diri dihadapan Alloh dan kekuasaanya yang serba
maha, yang menghidupkan kita, yang mematikan dan maha berkehendak atas segala sesuatu makhluk ciptaan-Nya. Kita hanya bisa berencana tapi Alloh maha berkehendak. Man proposes, God disposes. We are nothing in front of God!
Sebenarnya hakikat dari sesuatu itu disebut rahmat atau ujian, sangat mudah parameternya. Cukup tanyakan bagi yang tertimpa penderitaan, apakah penderitaannya itu membuatnya lebih dekat atau lebih jauh dengan Alloh yang menciptakannya atau tidak? kalau itu membuatnya lebih dekat, hakikatnya penderitaan itu adalah rahmat baginya.
Sebaliknya tanyakan kepada yang mendapat kesenangan duniawai, apakah hal tersebut membuatnya lebih dekat atau lebih jauh dengan Alloh yang telah memberikannya kenikmatan tersebut atau malah menjauhkannya? kalau membuatnya lebih jauh, sungguh sejatinya itu adalah musibah.
Jadi dapatkah dikatakan musibah adalah Ujian?
Musibah adalah bentuk ujian dari Alloh, dapat berupa hal yang baik ataupun yang buruk.
Namun perlu kita pahami bahwa definisi hal baik dan hal buruk adalah berasal dari logika manusia.
Hal yang baik dan buruk menurut manusia bukanlah hal yang mutlak, terkadang lebih ke problema “rasa” saja. Beberapa ulama mengatakan bahwa buruknya takdir hanya dilihat dari sisi mahluk saja, sedangkan ditinjau dari Sang Pencipta Takdir, semua takdir adalah baik.
Musibah apapun yang menimpa, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari enam perkara :
Pertama, sebagai ujian keimanan.
Kedua, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan.
Ketiga, sebagai bukti cinta Alloh terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Alloh mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”. (HR. Ahmad dan al-Thabrani)
Keempat, sebagai tanda bahwa Alloh menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Alloh bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah.
Kelima, sebagai teguran atau peringatan.
Keenam, sebagai siksa Alloh di dunia.
Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Alloh meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”. (HR. Abu Dawud)
"Siapapun yg tertimpa musibah, hendaknya ia menyadari bahwa Zat yang menimpakan cobaan adalah Hakim yang seadil-adilnya, Tuhan yang Maha Penyayang. Sesungguhnya, cobaan yang Dia tempakan tidak untuk menghancurkannya, tidak untuk menyiksanya, dan tidak pula untuk membinasakannya. Namun, Dia menempatkan musibah untuk menguji kesabaran, keridhoan, dan keimanan. Ujian dan musibah datang demi mendengar kerendahan dan keimanannya, demi melihat simpuh khusyuk di hadapan-Nya, teguh disisi-Nya, luluh di hadapan-Nya, dan pekikan aduan kepada-Nya"
Dalam suatu hadits shahih Rasulullah memang pernah mengatakan bahwa, ketika suatu kaum atau bangsa diadzab maka adzab tidak akan pilih-pilih. Siapapun akan terkena adzab, tidak peduali dia orang sangat baik di mata orang lain maupun orang jahat. Dan kata Rasulullah, seseorang kelak akan
dibangkitkan sesuai dengan keadaan dan kondisi keimanannya masing-masing ketika bencana itu datang. Itulah sebabnya kita perlu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan, Addina nasihatan. Ada yang mengatakan bahwa dunia ini ibarat perahu yang sedang berlayar, karena itu ketika ada salah satu penumpang membocori kapal atau perahu tsb maka hendaknya kita mencegahnya
atau kita semuanya akan tenggelam. Disinilah kenapa amal ma'ruf (menganjurkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah keburukan/kerusakan ) disuatu negeri diperlukan atau atau "perahu dunia" ini akan tenggelam?
Tentunya dengan cara-cara yang baik dan wise, bil hikmah wal mau'idhatul hasanah...
Sesungguhnya kebenaran hanyalah dari Alloh, kesalahan atau salah kutip Al-quran/hadist ada pada penulis yg serba kekurangan ini.
Alhamdulillah Jazakumullahu khoiran,
No comments:
Post a Comment